Penggunaan Chitosan Dari Cangkang Udang

Penggunaan Chitosan Dari Cangkang Udang

Jurnal Penelitian Perikanan - Penggunaan Chitosan dari Cangkang Udang - ABSTRAK : Devisa yang diperoleh dari sektor perikanan 34% berasal dari ekspor udang sebesar 125.596 ton pada tahun 2007. Produksi udang menghasilkan limbah ± 35%-50% dari berat udang. Penelitian untuk memanfaatkan limbah kulit udang menjadi chitosan telah dilakukan. Chitosan adalah modifikasi dari senyawa chitin yang banyak terdapat dalam kulit luar binatang golongan Crustaceae seperti udang. Khasiat chitosan sebagai materi antibakteri dan kemampuannya untuk mengimobilisasi kuman mengakibatkan chitosan sanggup dipakai sebagai pengawet makanan.

Tujuan penelitian ini ialah untuk mengetahui usang waktu simpan tahu dengan memakai chitosan, mengetahui berapa konsentrasi chitosan yang optimal dalam pengawetan tahu serta mengetahui dampak chitosan terhadap sifat fisik tahu menyerupai tekstur, busuk dan warna.
teks lengkap Uji Aktivitas Antibakteri Kitosan dari Kulit Udang terhadap Staphylococcus aureus dan Escherichia coli dengan Metode Difusi Agar
  • Pemanfaatan Limbah Kulit Udang menjadi Edible Coating untuk Mengurangi Pencemaran Lingkungan
  • Tingkat Konsumsi Oksigen Udang Vanamei (Litopenaeus vannamei) dan Model Pengelolaan Oksigen pada Tambak Iintensif
  • Daya Dukung Lingkungan Perairan Tambak Desa Mororejo Kabupaten Kendal
  • Pengaruh Pemberian Berbagai Jenis Pakan terhadap Penampilan Reproduksi Ikan Balashark (Balanthiocheilus melanopterus Bleeker)
  • Biologi dan Metode Kultur Plankton sebagai Pakan Alami Larva Hewan Air
  • Kajian Sistem Manajemen Mutu pada Pengolahan Ikan Jambal Roti di Pangandaran - Kabupaten Ciamis
  • Analisis Pengendalian Kualitas Produksi Pembekuan Udang PT. Istana Cipta Sembada Dengan Menggunakan Diagram Kontrol C
  • Uji Antibakteri Kitosan dari Kulit Udang Windu (Penaeus monodon) dengan Metode Difusi Cakram Kertas
  • Biologi Dan Metode Kultur Plankton Sebagai Pakan Alami Larva Binatang Air

    Biologi Dan Metode Kultur Plankton Sebagai Pakan Alami Larva Binatang Air

    Jurnal Penelitian Perikanan - Biologi dan Metode Kultur Plankton sebagai Pakan Alami Larva Hewan Air - Abstrak : Perkembangan perjuangan budidaya perikanan perlu didukung oleh teknologi pembenihan dan pembesaran yang mantap. Teknik pembenihan yang tersedia dibutuhkan sanggup menyediakan benih bermutu dalam jumlah yang cukup, sempurna waktu dan jenis yang sesuai.

    Untuk keberhasilan usaha pembenihan ikan, udang dan binatang air lainnya memerluka kondisi lingkungan yang baik, ketersediaan induk unggul, desain dan kontruksi yang mantap, ketersediaan pakan buatan dan pakan alami. Pakan ini harus tersedia dalam jumlah yang cukup, tetap ukurannya dan mengandung nilai gizi tinggi.

    Baca juga Abstrak Jurnal Penelitian Perikanan lainnya:
    Kajian Sistem Administrasi Mutu Pada Pengolahan Ikan Jambal Roti Di Pangandaran - Kabupaten Ciamis

    Kajian Sistem Administrasi Mutu Pada Pengolahan Ikan Jambal Roti Di Pangandaran - Kabupaten Ciamis

    Jurnal Penelitian Perikanan - Kajian Sistem Manajemen Mutu pada Pengolahan Ikan Jambal Roti di Pangandaran - Kabupaten Ciamis - ABSTRAK : Istilah “ikan jambal roti” merupakan sebutan untuk ikan manyung asin. Usaha pengolahan “ikan jambal roti” di Pangandaran berpotensi untuk dikembangkan. Salah satu aspek yang perlu dikaji dalam pengembangan perjuangan tersebut yaitu sistem manajemen mutu.

    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui mutu dan keamanan materi baku maupun produk, tingkat penerapan Program Kelayakan Dasar, hubungan antara sudut post rigor mortis dengan nilai organoleptik materi baku, hubungan ganda antara nilai organoleptik materi baku dan tingkat penerapan Program Kelayakan Dasar dengan nilai organoleptik produk, hubungan masingmasing antara pendidikan dan pengalaman perjuangan para pengolah dengan tingkat penerapan Program Kelayakan Dasar, serta memilih Critical Control Points (CCP) pada pengolahan “ikan jambal roti” di Pangandaran. Jenis penelitian ini studi kasus, dengan subyek penelitiannya yaitu unit pengolahan “ikan jambal roti” yang berjumlah 9 unit. Seluruh unit pengolahan dijadikan sampel penelitian, kecuali untuk pengujian kandungan total kuman (Total Plate Count) hanya diambil tiga sampel unit pengolahan dengan memakai metode purposive sampling.

    Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada umumnya mutu materi baku (rata-rata nilai mutu = 7, pembulatan) dan mutu produk (rata-rata nilai mutu = 6,6) “ikan jambal roti” di Pangandaran secara organoleptik telah memenuhi syarat standar mutu berdasarkan SNI. Namun demikian, keamanan produk masih diragukan sebab rata-rata TPC-nya cukup tinggi (1,3 x 105 koloni/g) dan melebihi standar maksimum TPC ikan asin kering berdasarkan SNI. Secara keseluruhan, tingkat penerapan Program Kelayakan Dasar masih rendah (rata-rata tingkat penerapan = 54,78 %). Pada taraf iman 5 %, terdapat hubungan konkret antara sudut post rigor mortis dengan nilai organoleptik materi baku (r = 0,956). Demikian juga, nilai organoleptik materi baku dan tingkat penerapan Program Kelayakan Dasar berkorelasi konkret dengan nilai organoleptik produk (R = 0,978). Pengalaman perjuangan berkorelasi konkret dengan tingkat penerapan Program Kelayakan Dasar (r = 0,847). Sedangkan, antara pendidikan dengan tingkat penerapan Program Kelayakan Dasar tidak terdapat hubungan konkret (r = 0,020). Tahap proses yang dinyatakan sebagai Critical Control Points (CCP) yaitu penerimaan materi baku dan penjemuran.

    Kata kunci : Sistem administrasi mutu, ikan jambal roti
    Uji Aktivitas Antibakteri Kitosan dari Kulit Udang terhadap Staphylococcus aureus dan Escherichia coli dengan Metode Difusi Agar
  • Pemanfaatan Limbah Kulit Udang menjadi Edible Coating untuk Mengurangi Pencemaran Lingkungan
  • Tingkat Konsumsi Oksigen Udang Vanamei (Litopenaeus vannamei) dan Model Pengelolaan Oksigen pada Tambak Iintensif
  • Daya Dukung Lingkungan Perairan Tambak Desa Mororejo Kabupaten Kendal
  • Pengaruh Pemberian Berbagai Jenis Pakan terhadap Penampilan Reproduksi Ikan Balashark (Balanthiocheilus melanopterus Bleeker)
  • Penggunaan Chitosan dari Cangkang Udang
  • Biologi dan Metode Kultur Plankton sebagai Pakan Alami Larva Hewan Air
  • Analisis Pengendalian Kualitas Produksi Pembekuan Udang PT. Istana Cipta Sembada Dengan Menggunakan Diagram Kontrol C
  • Uji Antibakteri Kitosan dari Kulit Udang Windu (Penaeus monodon) dengan Metode Difusi Cakram Kertas
  • Jurnal: Analisis Pengendalian Kualitas Produksi Pembekuan Udang Pt. Istana Cipta Sembada Dengan Memakai Diagram Kontrol C

    Jurnal: Analisis Pengendalian Kualitas Produksi Pembekuan Udang Pt. Istana Cipta Sembada Dengan Memakai Diagram Kontrol C

    Jurnal Penelitian Perikanan - Analisis Pengendalian Kualitas Produksi Pembekuan Udang PT. Istana Cipta Sembada Dengan Menggunakan Diagram Kontrol C - ABSTRAK : Pengendalian kualitas sangat dibutuhkan dalam memproduksi suatu barang untuk menjaga kestabilan mutu, juga merupakan salah satu perjuangan untuk menemukan faktor-faktor terduga yang menyebabkan kurang lancarnya fungsi dalam proses produksi sehingga jikalau terjadi gangguan sanggup segera dilakukan tindakan pembetulan sebelum terlalu banyak unit yang tak sesuai dengan produksi.

    Diagram kontrol C yakni suatu grafik pengendali kualitas statistik yang dipakai untuk mengendalikan produk cacat yang tidak memenuhi syarat spesifikasi kualitas dari produk yang dihasilkan dalam suatu proses produksi. Permasalahan dalam kiprah selesai ini adalah: Bagaimanakah proses pengendalian kualitas produksi pembekuan udang PT. Istana Cipta Sembada dan faktor-faktor apa sajakah yang mempengaruhinya? Dengan memakai diagram kontrol C apakah proses produksi pembekuan udang berada dalam kontrol?. Adapun tujuan penulisan kiprah selesai ini yaitu untuk mengetahui bagaimanakah proses pengendalian kualitas produksi pembekuan udang PT. Istana Cipta Sembada dan mengetahui apakah proses tersebut berada dalam kontrol atau tidak Manfaat yang diperoleh yaitu dengan mengetahui hasil perhitungan data produksi udang beku dengan memakai diagram kontrol C akan diperoleh batas atas dan batas bawahnya sehingga sanggup dilihat apakah proses berada dalam kontrol atau tidak, mengetahui proses pengendalian produksi pembekuan udang PT. Istana Cipta Sembada, dan dengan mengetahui apakah proses berada dalam kontrol atau tidak maka pihak perusahaan sanggup mengambil langkah untuk meningkatkan kualitas produksi.

    Baca juga Abstrak Jurnal Penelitian Perikanan lainnya:
    Uji Antibakteri Kitosan Dari Kulit Udang Windu (Penaeus Monodon) Dengan Metode Difusi Cakram Kertas

    Uji Antibakteri Kitosan Dari Kulit Udang Windu (Penaeus Monodon) Dengan Metode Difusi Cakram Kertas

    Jurnal Penelitian Perikanan - Uji Antibakteri Kitosan dari Kulit Udang Windu (Penaeus monodon) dengan Metode Difusi Cakram Kertas - RINGKASAN : Udang merupakan komoditas andalan sektor perikanan yang menghasilkan limbah yang cukup banyak. Limbah tersebut berpotensi menjadi pencemar lingkungan. Namun disisi lain, limbah udang yang banyak mengandung kitin tersebut sanggup dimanfaatkan untuk pembuatan kitosan. Salah satu pemanfaatan kitosan adalah sebagai antibakteri.

    Muatan kasatmata kitosan diperkirakan sanggup berinteraksi dengan permukaan sel kuman yang bermuatan negatif, sehingga sanggup mengganggu pertumbuhan bakteri. Bakteri merupakan mikroorganisme yang bersahabat dengan kehidupan manusia. Sifat patogen pada beberapa kuman sanggup mengakibatkan penyakit pada manusia. Pengujian kemampuan antibakteri kitosan terhadap kuman patogen Bacillus substilis, Escherichia coli, Pseudomonas aeruginosa dan Staphylococcus aureus, dilakukan dengan mengukur luas zona hambat dan dilanjutkan dengan memilih KHM (konsentrasi hambat minimum).

    Pembuatan kitosan dari kulit udang windu (Penaeus monodon) dilakukan melalui proses demineralisasi memakai HCl 1N, deproteinasi memakai NaOH 3,5%, depigmentasi memakai H2O2 3% dan deasetilasi memakai NaOH 50%. Penentuan DD dilakukan dengan analisis FTIR. Dalam pengujian antibakteri ini, kitosan dilarutkan dalam asam asetat, kemudian dilakukan uji antibakteri dengan metode difusi cakram kertas. Zona bening yang terbentuk disekitar cakram diukur diameternya.

    Berdasarkan penelitian, kitosan yang dihasilkan memiliki derajat deasetilasi (DD) sebesar 60,74%. Pengujian antibakteri kitosan memperlihatkan zona hambat (daerah bening), yang memperlihatkan bahwa kitosan memiliki kemampuan sebagai antibakteri. Konsentrasi kendala minimum (KHM) kitosan terhadap kuman uji ialah 0,125% dengan luas zona hambat untuk Bacillus substilis, Escherichia coli, Pseudomonas aeruginosa dan Staphylococcus aureus secara berturut-turut ialah 1,5386cm2; 0,1962cm2; 1,6504cm2 dan 1,1876cm2. Perbandingan rata-rata luas zona hambat larutan kitosan 1% terhadap antibiotik tetrasiklin 0,01% pada kuman Bacillus substilis, Escherichia coli, Pseudomonas aeruginosa dan Staphylococcus aureus berturut-turut ialah 1,6 kali; 0,4 kali; 0,5 kali dan 1,9 kali. Jadi, urutan keefektifan larutan kitosan 1% dalam menghambat pertumbuhan kuman jikalau dibandingkan dengan antibiotik tetrasiklin 0,01% secara berturut-turut ialah Staphylococcus aureus, Bacillus substilis, Pseudomonas aeruginosa dan Escherichia coli.
    Uji Aktivitas Antibakteri Kitosan dari Kulit Udang terhadap Staphylococcus aureus dan Escherichia coli dengan Metode Difusi Agar
  • Pemanfaatan Limbah Kulit Udang menjadi Edible Coating untuk Mengurangi Pencemaran Lingkungan
  • Tingkat Konsumsi Oksigen Udang Vanamei (Litopenaeus vannamei) dan Model Pengelolaan Oksigen pada Tambak Iintensif
  • Daya Dukung Lingkungan Perairan Tambak Desa Mororejo Kabupaten Kendal
  • Pengaruh Pemberian Berbagai Jenis Pakan terhadap Penampilan Reproduksi Ikan Balashark (Balanthiocheilus melanopterus Bleeker)
  • Penggunaan Chitosan dari Cangkang Udang
  • Biologi dan Metode Kultur Plankton sebagai Pakan Alami Larva Hewan Air
  • Kajian Sistem Manajemen Mutu pada Pengolahan Ikan Jambal Roti di Pangandaran - Kabupaten Ciamis
  • Analisis Pengendalian Kualitas Produksi Pembekuan Udang PT. Istana Cipta Sembada Dengan Menggunakan Diagram Kontrol C
  • Pengembangan Budidaya Ikan Kerapu Di Pulau Belitung

    Pengembangan Budidaya Ikan Kerapu Di Pulau Belitung

    Jurnal Penelitian Perikanan - Pengembangan Budidaya Ikan Kerapu di Pulau Belitung - Abstrak : Kabupaten Belitung, Propinsi Bangka-Belitung, merupakan salah satu wilayah perairan di Indonesia bab barat yang memiliki potensi untuk pengembangan marikultur, khususnya untuk budidaya ikan dalam Karamba Jaring Apung (KJA). Pada tahun 2003 telah dilakukan penelitian potensi lokasi untuk KJA dan uji-coba pembesaran benih ikan kerapu tikus hasil hatcheri di Gondol-Bali.

    Baca juga Abstrak Jurnal Penelitian Perikanan lainnya:
    Kajian Bioaktif Spons Bahari (Porifera: Demospongiae) Suatu Peluang Alternatif Pemanfaatan Ekosistem Karang Indonesia Dalam Bidang Farmasi

    Kajian Bioaktif Spons Bahari (Porifera: Demospongiae) Suatu Peluang Alternatif Pemanfaatan Ekosistem Karang Indonesia Dalam Bidang Farmasi

    Jurnal Penelitian Perikanan - Kajian Bioaktif Spons Laut (Porifera: Demospongiae) Suatu Peluang Alternatif Pemanfaatan Ekosistem Karang Indonesia dalam Bidang Farmasi - ABSTRAK : Indonesia merupakan sentra keragaman terumbu karang dunia termasuk didalamnya spons laut. Spons merupakan salah satu komponen biota penyusun terumbu karang yang memiliki potensi bioaktif yang belum banyak dimanfaatkan. Senyawa bioaktif yang dihasilkan oleh spons maritim yakni sebagai antibakteri, antijamur, antitumor, antivirus, antifouling dan menghambat kegiatan enzim.

    Kemajuan yang dicapai didalam hal kemampuan sarana analisis kimia dan teknik produksi materi alam telah memungkinkan pelaksanaan analisis kimia kandungan bioaktif, uji manfaat, keamanaan serta uji mutu untuk standarisasi materi dan juga pengembangan industri materi dari sekala laboratorium ke sekala industri. Beberapa hambatan yang dihadapi dalam penelitian produk alam maritim di Indonesia antara lain: (a) Kurangnya info mengenai jenis biota yang ada di Indonesia serta kawasan tumbuhnya, (b) Peta penyebaran potensi biota belum ada (c) Fasilitas penelitian dan pakar peneliti tersebar di banyak sekali lembaga, demikian pula sarana dan prasarana tersebar tidak merata di banyak sekali forum penelitian dan perguruan tinggi tinggi (d) kurangnya mahir taksonomi dalam bidang tertentu contohnya spons.

    Baca juga Abstrak Jurnal Penelitian Perikanan lainnya:
    Jurnal : Studi Kasus Perjuangan Budidaya Ikan Patin (Pangasius Sp) Milik Habib Saleh Di Desa Karang Intan Kecamatan Karang Intan Kabupaten Banjar Provinsi Kalimantan Selatan

    Jurnal : Studi Kasus Perjuangan Budidaya Ikan Patin (Pangasius Sp) Milik Habib Saleh Di Desa Karang Intan Kecamatan Karang Intan Kabupaten Banjar Provinsi Kalimantan Selatan

    Jurnal Penelitian Perikanan - Studi Kasus Usaha Budidaya Ikan Patin (Pangasius sp) Milik Habib Saleh di Desa Karang Intan Kecamatan Karang Intan Kabupaten Banjar Provinsi Kalimantan Selatan - ABSTRAK : Penelitian ini dilaksanakan selama 4 bulan, bertempat di Desa Karang Intan Kecamatan Karang Intan Kabupaten Banjar Provinsi Kalimantan Selatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui citra umum usaha budidaya ikan patin milik Habib Saleh, selain itu untuk mengetahui kelayakan finansial.

    Metode penelitian yang dipakai yaitu metode studi kasus dan wawancara. Analisis data memakai analisis keuntungan, analisis kelayakan perjuangan dengan kriteria investasi yang dipakai yaitu NPV, Gross BCR dan IRR, serta analisis Kepekaan (Sensitivitas).

    Hasil penelitian ini memperlihatkan bahwa perjuangan budidaya ikan patin (Pangasius sp) milik Habib Saleh memperlihatkan keuntungan. Hasil analisis kelayakan pada perjuangan budidaya ikan patin diperoleh nilai NPV 14% Rp. 541.915.882,35,- > 0 dan NPV 18% RP. 497.136.835,75,- > 0 Berarti perjuangan tersebut menguntungkan. Gross B/C 14% sebesar 1,302164348 > 1, dan Gross B/C 18%sebesar 1,285159305 > 1 berarti perjuangan tersebut sanggup dilanjutkan. IRR yaitu 39% > tingkat bunga bank berarti perjuangan tersebut menguntungkan dan layak untuk diteruskan.

    Hasil analisis sensitivitas pada perjuangan budidaya ikan patin jikalau diasumsikan harga pakan ikan naik 30% yaitu pada kriteria NPV 14% Rp 56.106.051,93, NPV 18% sebesar Rp.22.558.075,96 > 0 Berarti perjuangan tersebut menguntungkan. Gross B/C 14% sebesar 1,023294622 > 1, dan Gross B/C 18% sebesar 1,010556837 > 1 berarti perjuangan tersebut sanggup dilanjutkan. IRR yaitu 20,69% > tingkat bunga bank berarti perjuangan tersebut menguntungkan dan layak untuk diteruskan.

    Hasil analisis sensitivitas pada perjuangan budidaya ikan patin jikalau terjadi penurunan harga ikan sebesar 10% maka kriteria NPV 14% Rp 328.930.587,63, NPV 18% sebesar Rp.266.678.291,21 > 0 Berarti perjuangan tersebut menguntungkan. Gross B/C 14% sebesar 1,196602313 > 1, dan Gross B/C 18% sebesar 1,182582907 > 1 berarti perjuangan tersebut sanggup dilanjutkan. IRR yaitu 35,14% > tingkat bunga bank % berarti perjuangan tersebut menguntungkan dan layak untuk diteruskan.

    Baca juga Abstrak Jurnal Penelitian Perikanan lainnya:
    Industri Dan Ekspor Udang Indonesia

    Industri Dan Ekspor Udang Indonesia

    Jurnal Penelitian Perikanan - Industri dan Ekspor Udang Indonesia - Abstrak : Sub-Sektor Perikanan Indonesia merupakan sub-sektor yang tetap mengalami pertumbuhan di masa krisis ekonomi yang dialami Indonesia dalam 3 tahun terakhir ini. Dengan nilai ekspor di atas US$ 1,6 Milyar setahun dengan pertumbuhan rata-rata 3,1% pertahun, mengakibatkan sub-sektor perikanan salah satu subsektor yang membantu perekonomian Indonesia di masa krisis.

    Ekspor komoditi perikanan bertumpu pada dua jenis komodoti utama, yaitu udang dan kelompok ikan bahari menyerupai tuna, cakalang dan tongkol. Komoditi udang sangat berperan dalam peningkatan ekspor sub-sektor perikanan, alasannya yaitu memiliki bantuan 60% dari total nilai ekspor sub-sektor perikanan dengan nilai ekspor diatas satu milyar dolar Amerika setahun.

    Ekspor udang Indonesia sampai dikala ini masih sangat mengandalkan pada pasar Jepang dengan nilai ekspor US$ 635.174.000 dan kontribusinya sebesar 62,9% dari total ekspor udang Indonesia di tahun 1998. Walaupun Jepang merupakan pasar utama udang dunia, tetapi pasar Eropa, Asia dan Amerika Serikat yang masih terus tumbuh merupakan pasar yang menarik dan sanggup dikembangkan dalam jangka panjang. Ekspor Udang Indonesia merupakan 12,1% dari total ekspor udang dunia dengan ajakan pasar dunia senilai US$ 11 milyar setahun.

    Baca juga Abstrak Jurnal Penelitian Perikanan lainnya:
    Jurnal: Efektivitas Ekstrak Daun Sirih Terhadap Jumlah Basil Vibrio Dan Kelulushidupan Udang Windu Yang Diinfeksi Basil Vibrio Harveyi

    Jurnal: Efektivitas Ekstrak Daun Sirih Terhadap Jumlah Basil Vibrio Dan Kelulushidupan Udang Windu Yang Diinfeksi Basil Vibrio Harveyi

    Jurnal Penelitian Perikanan - Efektivitas Ekstrak Daun Sirih Terhadap Jumlah Bakteri Vibrio dan Kelulushidupan Udang Windu Yang Diinfeksi Bakteri Vibrio harveyi - ABSTRAK: Pada ketika ini, terdapat beberapa penyakit pada udang yang sudah mulai meresahkan masyarakat pembudidaya udang, Salah satunya ialah penyakit vibriosis yang menyerang udang windu. Penyakit ini disebabkan oleh spesies V. harveyi. Berkaitan dengan permasalahan tersebut, perlu ada alternatif materi obat yang lebih kondusif yang sanggup dipakai dalam pengendalian penyakit udang. Salah satu alternatifnya ialah dengan memakai flora obat tradisional yang bersifat anti bakteri, salah satunya daun sirih (Piper betle Linn).

    Penelitian ini bertujuan mengetahui takaran yang efektif ekstrak daun sirih (P. betle Linn) melalui metode perendaman terhadap tingkat kelulushidupan udang windu (P. monodon ) dan jumlah basil Vibrio yang terinfeksi bakeri V. harveyi. Metode penelitian ialah eksperimental dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan empat perlakuan dan lima ulangan. Dosis Ekstrak yang dipakai ialah : 0 ppm (A), 20 ppm (B), 30 ppm (C), 40 ppm(D). Parameter utama yang diamati ialah jumlah basil Vibrio dan tingkat kelulushidupan udang windu (P. monodon ). Parameter penunjang yang diamati ialah kualitas air. Hasil uji Anava mengatakan bahwa dukungan ekstrak daun sirih banyak sekali takaran (0 ppm, 20 ppm, 30 ppm, 40 ppm) tidak besar lengan berkuasa positif terhadap kelulushidupan udang windu dan jumlah basil Vibrio. Dosis 30 ppm menghasilkan kelulushidupan tertinggi sebesar 57 %. Dosis 40 ppm merupakan takaran ekstrak daun sirih yang menghasilkan penurunan jumlah basil tertinggi sebesar 1,9 x 103 CFU/ml. Kualitas air media pemeliharaan udang windu ialah suhu air media pemeliharaan berkisar 27º- 29ºC, oksigen terlarut (DO) berkisar 5 - 6 mg/l, pH berkisar 7 dan amoniak 0,003 ppm.

    Keyword : udang windu
    teks lengkap >>

    Baca juga Abstrak Jurnal Penelitian Perikanan lainnya:
    Jurnal : Studi Terhadap Daya Dukung Perairan Untuk Budidaya Tambak Udang Sebagai Imbas  Pembuangan Lumpur Lapindo

    Jurnal : Studi Terhadap Daya Dukung Perairan Untuk Budidaya Tambak Udang Sebagai Imbas Pembuangan Lumpur Lapindo

    Jurnal Penelitian Perikanan - Studi terhadap Daya Dukung Perairan untuk Budidaya Tambak Udang sebagai Dampak  Pembuangan Lumpur Lapindo - ABSTRAK : Studi terhadap daya dukung perairan untuk budidaya tambak udang sebagai dampak pembuangan Lumpur Lapindo telah dilakukan di Kabupaten Sidoarjo. Dengan memakai pendekatan kesesuaian kualitas air serta kaidah budidaya yang berkelanjutan yang diberikan oleh banyak sekali pakar.

    Hasil studi mengatakan bahwa secara kualitatif perairan Sidoarjo memiliki nilai indeks pencemaran (13,3433) maka perairan pesisir sidoarjo terkotori berat, dan untuk kelangsungan perjuangan budidaya udang diharapkan treatmen air baik secara fisik, kimia dan biologis sebelum air tersebut dimanfaatkan untuk pemeliharaan. . Secara kuantitatif, produksi udang kabupaten Sidoarjo hasil estimasi dengan pendekatan relasi Kelimpahan plankton terhadap klorofil-a diperkirakan mengalami penurunan produksi sebesar 165,5 ton menjadi 3349 ton dari produksi udang tahun 2007 ialah sebesar 3515,1 ton. Sedangkan menurut relasi konsentrasi TSS terhadap Kelimpahan plankton diperkirakan mengalami penurunan sebesar 153,8 ton menjadi 3361,3 ton.


    Kata Kunci : Daya dukung
    teks lengkap >>

    Baca juga Abstrak Jurnal Penelitian Perikanan lainnya:
    Jurnal: Peningkatan Keberhasilan Pembentukan Monosex Jantan Lobster Air Tawar (Cherax Quadricarinatus) Melalui Dukungan Hormon Metiltestosteron Dengan Usang Perendaman Yang Berbeda

    Jurnal: Peningkatan Keberhasilan Pembentukan Monosex Jantan Lobster Air Tawar (Cherax Quadricarinatus) Melalui Dukungan Hormon Metiltestosteron Dengan Usang Perendaman Yang Berbeda

    Jurnal Penelitian Perikanan - Peningkatan Keberhasilan Pembentukan Monosex Jantan Lobster Air Tawar (Cherax quadricarinatus) Melalui Pemberian Hormon Metiltestosteron dengan Lama Perendaman yang Berbeda - ABSTRAK: Tujuan penelitian ini ialah untuk menguji imbas hormon metiltestoteron dengan usang perendaman yang berbeda terhadap keberhasilan pembentukan monosex jantan lobster air tawar (Cherax quadricarinatus). Penelitian ini memakai Rancangan Acak Lengkap dengan 5 perlakuan usang perendaman hormon metiltestosteron yang berbeda, yaitu perlakuan A = usang perendaman 0 jam, B = usang perendaman 12 jam, C = usang perendaman 18 jam, D = usang perendaman 24 jam, dan E = usang perendaman 30 jam. Analisa data memakai analisa keragaman (ANOVA) dan uji Beda Nyata Terkecil (BNT).

    Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertolongan hormon metiltestosteron dengan usang perendaman yang berbeda besar lengan berkuasa konkret terhadap keberhasilan pembentukan kelamin jantan lobster air tawar. Rata-rata persentase jantan tertinggi diperoleh pada perlakuan E (lama perendaman 30 jam) yaitu sebesar 91,53% dan persentase terendah pada perlakuan A (lama perendaman 0 jam) yaitu sebesar 54,55%. Sedangkan untuk perlakuan B (lama perendaman 12 jam) menghasilkan persentase jantan 86,16%, perlakuan C (lama perendaman 18 jam) sebesar 85,52%, dan perlakuan D (lama perendaman 24 jam) sebesar 84,80%. Disimpulkan bahwa pertolongan hormon metiltestosteron dengan usang perendaman yang berbeda memperlihatkan imbas yang konkret terhadap pembentukan monosex jantan lobster air tawar, yaitu dengan perlakuan terbaik pada usang perendaman 30 jam.

    Kata kunci: Lobster Air Tawar; Hormon Metiltestosteron; Monosex Jantan
    Pengembangan Budidaya Ikan Kerapu di Pulau Belitung
  • Kajian Bioaktif Spons Laut (Porifera: Demospongiae) Suatu Peluang Alternatif Pemanfaatan Ekosistem Karang Indonesia dalam Bidang Farmasi
  • Studi Kasus Usaha Budidaya Ikan Patin (Pangasius sp) Milik Habib Saleh di Desa Karang Intan Kecamatan Karang Intan Kabupaten Banjar Provinsi Kalimantan Selatan
  • Industri dan Ekspor Udang Indonesia
  • Efektivitas Ekstrak Daun Sirih Terhadap Jumlah Bakteri Vibrio dan Kelulushidupan Udang Windu Yang Diinfeksi Bakteri Vibrio harveyi
  • Studi terhadap Daya Dukung Perairan untuk Budidaya Tambak Udang sebagai Dampak Pembuangan Lumpur Lapindo
  • Status Sumberdaya Udang Penaeid di Sarawak
  • Pengaruh Penggunaan Dedak Fermentasi pada Pakan Terhadap Laju Pertumbuhan Ikan Patin (Pangasius djambal)
  • Assesment Sumber Daya Udang Windu, Penaeus monodon di Kuala Baram, Miri- Sarawak
  • Jurnal : Status Sumberdaya Udang Penaeid Di Sarawak

    Jurnal : Status Sumberdaya Udang Penaeid Di Sarawak

    Jurnal Penelitian Perikanan - Status Sumberdaya Udang Penaeid di Sarawak - ABSTRAK : Penganggaran stok sumber udang adalah memakai data survei menggunakan pukat tunda udang di perairan sehingga 12 kerikil nautika dari pantai pada tahun 1980, 1982, 1990 dan 1995. Analisa data ialah mengikut tiga cuilan kawasan; I, II dan III. Penurunan ketara pada nilai biomas udang dalam tempoh 15 tahun pada setiap daerah kecuali pada cuilan daerah I menerangkan peningkatan pada tahun 1995.

    Anggaran potensi tangkapan udang ialah 5552 tan. Untuk perairan dengan dasar rata, bilangan bot yang beroperasi pada masa ini ialah jauh melebihi anggaran bilangan bot yang dibutuhkan untuk eksploitasi secara mapan. Pukat hanyut tiga lapis dengan 20 utas setiap unit boleh ditambah bilangannya di cuilan daerah II dan III yang berbatu.

    Baca juga Abstrak Jurnal Penelitian Perikanan lainnya:
    Jurnal : Efek Penggunaan Dedak Fermentasi Pada Pakan Terhadap Laju Pertumbuhan Ikan Patin (Pangasius Djambal)

    Jurnal : Efek Penggunaan Dedak Fermentasi Pada Pakan Terhadap Laju Pertumbuhan Ikan Patin (Pangasius Djambal)

    Jurnal Penelitian Perikanan - Pengaruh Penggunaan Dedak Fermentasi pada Pakan Terhadap Laju Pertumbuhan Ikan Patin (Pangasius djambal) - ABSTRAK : Ikan patin (Pangasius djambal) merupakan salah satu jenis ikan budidaya air tawar yang mempunyai nilai ekonomi tinggi di Indonesia. Permasalahan yang sering dihadapi dalam budidaya ikan patin adalah biaya pakan yang tinggi yang melebihi 50 % biaya produksi.

    Biaya pakan yang tinggi tersebut diakibatkan mahalnya sumber protein pakan yaitu tepung ikan sehingga diperlukan alternatif materi pakan yang bernilai protein tinggi. Oleh sebab itu, penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kadar protein pakan dengan memakai dedak yang mengalami proses fermentasi. Penelitian perihal fermentasi dedak yang dipakai sebagai bahan pakan ikan patin (Pangasius djambal) telah dilakukan. Dedak tersebut difermentasi memakai mikroba Saccharomyces cerevisiae dan Lactobacillus acidophilus. Dedak tersebut kemudian dipakai sebagai bahan pakan ikan patin

    Pakan yang dibentuk terdiri dari 3 jenis pakan yang disebut Pakan B, C, dan D. Pakan A yaitu pakan komersil. Pakan B yaitu pakan kontrol yang memakai dedak yang tidak difermentasi. Pakan C yaitu pakan yang dibentuk dengan memakai dedak yang difermentasi dengan memakai basil L. acidophilus. Pakan D yaitu pakan yang memakai dedak yang difermentasi dengan memakai ragi S. cerevisiae Fermentasi dilakukan selama dua hari pada kondisi suhu ruang (untuk fermentasi S cerevisiae) dan pada suhu 37 OC (untuk fermentasi L acidophilus) dengan penggunaan starter 10 % b/v inokulum, pada umur kultur optimum. Keseluruhan kultur mikroba diperoleh dari koleksi Laboratorium Mikrobiologi SITH ITB. 

    Pengujian proksimat dilakukan pada masing-masing pakan, kecuali pakan komersil. Pakan dengan perlakuan fermentasi Saccharomyces cerevisiae mempunyai kandungan protein yang lebih besar (21,14%) dibandingkan dengan pakan kontrol (20,65%) dan pakan C (19,64%), sedangkan pakan A mengandung 30% protein. Pengujian pakan dilakukan terhadap ikan patin (Pangasius djambal) berumur 2 bulan dengan berat awal rata-rata 24,459 ± 4,2366 g. Pengujian pakan dilakukan terhadap lima ekor ikan patin per akuarium 5 liter air higienis selama dua minggu. Pada simpulan pengamatan, pertambahan berat tubuh ikan yang diberi pakan D bertambah 0,664± 1,605 gram, ikan-ikan yang diberi pakan B berkurang berat badannya sebanyak 2,9025± 1,6 gram , dan berat tubuh ikan-ikan yang diberi pakan C naik sebesar 2,034 ± 3,137 gram. Food convertion ratio (FCR) atau nilai konversi pakan memilih berapa gram pakan yang diperlukan untuk menaikkan 1 gram berat tubuh ikan. Makin sedikit pakan yang diperlukan (nilai FCR makin kecil) makin efisien pakan yang digunakan. Hasil penghitungan FCR mengatakan bahwa pakan dengan efisiensi terbaik ditunjukkan oleh pakan D dengan nilai terkecil yaitu 1,255:1. Nilai konversi pakan (FCR) dari pakan A,B, dan C berturut turut yaitu 1,766:1; 4,002:1; dan 2,324:1. 

    Pengukuran faktor kimia fisika perairan menyerupai pH, kadar nitrit, dan DO yang terukur selama pengujian, masih berada pada kisaran optimum/toleransi dari ikan patin, sedangkan kadar amoniak dan nitrat berada di atas batas atas toleransi ikan patin. Suhu air yang terukur sekitar 260C; DO 4,3- 9 mg/L; pH pada rentang 6,8- 7,9; amonium 0,312 – 1,416 ppm; nitrit 0,209-1,269 ppm, dan nitrat 0,013 – 0,735ppm. Faktor lingkungan tersebut tidak menghambat pertumbuhan ikan patin. Penelitian ini mengatakan bahwa pakan yang memakai dedak yang difermentasi Saccharomyces cerevisiae kuat terhadap laju pertumbuhan ikan patin

    Kata kunci: pakan patin, fermentasi dedak, Saccharomyces cerevisiae, Lactobacillus acidophilus

    Baca juga Abstrak Jurnal Penelitian Perikanan lainnya:
    Jurnal : Assesment Sumber Daya Udang Windu, Penaeus Monodon Di Kuala Baram, Miri- Sarawak

    Jurnal : Assesment Sumber Daya Udang Windu, Penaeus Monodon Di Kuala Baram, Miri- Sarawak

    Jurnal Penelitian Perikanan - Assesment Sumber Daya Udang Windu, Penaeus monodon di Kuala Baram, Miri- Sarawak - ABSTRAK : Dua bot pukat tunda komersial, SF3-779 dan SF3-118 telah disewa khas bagi menjalankan survei udang. Kawasan survei ialah dari Tanjong Baram ke Kuala Bakam, Miri merangkumi persisiran pantai sampai ke kedalaman 50m. Keluasan daerah survei ialah kurang lebih 295.5 watu nautika persegi.

    Dua puluh tiga stesen menunda telah dijalankan; 13 stesen dibentuk oleh bot SF3-779 di kedalaman air 11-50m dan 10 stesen di kendalikan oleh bot SF3-118 di kedalaman air 5-10m. Sebanyak 131ekor (51 jantan dan 80 betina) udang harimau berjaya ditangkap oleh bot SF3-779 dimana kadar tangkapan ialah 0.22 kgjam-1 bagi udang jantan dan 0.47 kgjam-1 bagi udang betina. Tangkapan udang harimau merupakan antara 0.4% - 5.6% (purata 2.16%) dari hasil tangkapan keseluruhan (5.74% spesis udang lain dan 92.1% ikan). Manakala bagi daerah perairan cetek, bot SF3-118 berjaya mendarat sebanyak 7 ekor udang jantan dan seekor udang betina dengan kadar tangkapan masing-masing 0.03 kgjam-1 dan 0.006 kg/jam dimana tangkapan udang harimau merupakan hanya 0.75% dari tangkapan keseluruhan (10.16% spesis udang lain dan 89.09% ikan). Saiz udang harimau jantan yang didarat ialah dalam julat 28.3mm panjang karapas (103.5mm panjang tubuh dan memiliki berat 20g) sampai 59.3mm panjang karapas (220.7mm dan berat 156g). Bagi udang harimau betina, saiz yang didarat ialah dari 37.0mm panjang karapas (163mm panjang tubuh dan berat 30g) sampai 75.0mm panjang karapas (282mm panjang tubuh dan berat 210g). Survei ini menerangkan bahawa kebanyakan (68.9%) dari induk udang harimau betina bersedia menetaskan telor, manakala 9.9% telah mengeluarkan telor. Kira-kira 90% dari sumber udang harimau didapati di perairan dalam 11–50m. Anggaran biomas yakni 2695kg bagi udang harimau jantan dan 3076kg bagi udang harimau betina berdasar kepada koeffisien tangkapan (q), bernilai 1.0. Pada tahap pendaratan semasa (1987 kg bagi udang jantan dan 3749 kg bagi udang betina) dan dari anggaran biomas, Hasil Mampan Maksima, ialah 4362kg dan 5720kg masing –masing bagi udang harimau jantan dan betina. Kadar eksploitasi, E yakni 0.4 setahun bagi kedua-dua udang harimau jantan dan betina. Kadar eksploitasi masih lagi rendah dengan mengambil kira tahap optimum ialah 0.5 setahun. Dengan keputusan ini, sumber udang harimau di perairan maritim Miri, khasnya Kuala Baram perlulah dikekalkan pada tahap eksploitasi sekarang.

    Kata-kunci: Penaeus monodon, biomas, hasil mampan maksima
    teks lengkap >>

    Baca juga Abstrak Jurnal Penelitian Perikanan lainnya:
    Kajian Perbandingan Aktiviti Pengoksidan Lipid Secara In-Vitro Bagi Ekstrak Mimosa Pigra Dan Aplikasi Ekstrak Sebagai Antioksida Dalam Pemakanan Tilapia

    Kajian Perbandingan Aktiviti Pengoksidan Lipid Secara In-Vitro Bagi Ekstrak Mimosa Pigra Dan Aplikasi Ekstrak Sebagai Antioksida Dalam Pemakanan Tilapia

    Jurnal Penelitian Perikanan - Kajian Perbandingan Aktiviti Pengoksidan Lipid Secara In-Vitro bagi Ekstrak Mimosa Pigra dan Aplikasi Ekstrak Sebagai Antioksida dalam Pemakanan Tilapia - ABSTRAK : Sebanyak 36 ekstrak Mimosa pigra telah diuji aktiviti antioksidanya dengan memakai ujian ferik tiosianat (FTC) dan asid tiobarbiturik (TBA). Didapati ekstrak rendaman air suling (daun) mempunyai aktiviti antioksida terbaik dalam ujian FTC, manakala ekstrak rebusan etil asetat (campuran batang, ranting dan daun) memiliki aktiviti antioksida terbaik dalam ujian TBA.

    Secara keseluruhannya, didapati ekstrak rebusan air suling (campuran batang, ranting dan daun) memiliki aktiviti antioksida terbaik dalam kedua-dua ujian. Kajian diteruskan dengan menentukan sembilan ekstrak terbaik antioksida daripada 36 sampel tadi untuk menjalani ujian aktiviti antioksida (ekstrak disingkirkan klorofil dengan memakai kaedah kromatografi kertas) [tujuh dari ekstrak rebusan iaitu metanol (campuran batang, ranting dan daun), metanol 80% (campuran batang, ranting dan daun), etanol 70% (campuran batang, ranting dan daun), etil asetat (campuran batang, ranting dan daun), metanol 80% (batang), metanol (daun), etanol (daun); dua dari ekstrak rendaman iaitu etanol 70% (batang) dan etil asetat (batang)]. Dalam ujian ini, sampel ekstrak air suling diabaikan dalam pemilihan ini kerana ketiadaan klorofil semasa pengekstrakan dilakukan.

    Didapati ekstrak rebusan metanol 80% tanpa klorofil (campuran batang, ranting dan daun) menunjukkan aktiviti antioksida terbaik dalam ujian FTC manakala ekstrak rendaman etanol 70% tanpa klorofil (batang) menunjukkan aktiviti antioksida terbaik dalam ujian TBA. Secara keseluruhannya, ekstrak rendaman etanol 70% tanpa klorofil (batang) menunjukkan aktiviti antioksida terbaik dalam ujian tersebut. Dengan menciptakan perbandingan antara ekstrak rebusan air suling (campuran batang, ranting dan daun) dengan ekstrak rendaman etanol 70% tanpa klorofil (batang), didapati ekstrak rebusan air suling (campuran batang, ranting dan daun) masih menunjukkan aktiviti antioksida yang lebih tinggi daripada ekstrak rendaman etanol 70% tanpa klorofil (batang). Maka, ekstrak rebusan air suling (campuran batang, ranting dan daun) dipakai sebagai kuliner komplemen dalam diet ikan secara in-vivo.
    Keanekaragaman dan Distribusi Udang Dikaitkan dengan Faktor Fisika dan Kimia Air Muara Sungai Asahan
  • Penekanan Mortalitas yang Disebabkan Kanibalisme pada Udang Kali (Macrobrachium lanchesteri de Man) sebagai Model Pengelolaan Budidaya Post Larva Udang Galah (Macrobrachium rosenbergii de Man)
  • Penggunaan Bungkil Inti Sawit yang Difermentasikan oleh Jamur Pelapuk Putih (Phanerochaete chrysosporium) dalm Pakan dan Pengaruhnya terhadap Pertumbuhan dan Daya Cerna Ikan Mas (Cyprinus carpio L.)
  • Pengaruh Meniran dalam Pakan untuk Mencegah Infeksi Bakteri Aeromonas sp. pada Benih Ikan Mas (C. carpio)
  • Pengembangan Industri Tambak Garam Terpadu untuk Produksi Garam dan Artemia Kualitas Super
  • Hasil Tangkapan dan Laju Tangkap Unit Perikanan Pukat Tarik, Tugu dan Kelong
  • Pengaruh Beberapa Media Terhadap Pertumbuhan Populasi Maggot (Hermetia illucens)
  • Aplikasi Teknologi Bioflok pada Budidaya Udang Putih (Litopenaeus vannamei Boone.)
  • Penampilan Reproduksi Induk Ikan Baung (Hemibagrus nemurus Blkr) dengan Pemberian Pakan Buatan yang Ditambahkan Asam Lemak n-6 dan n-3 dan dengan Implantasi Estradiol-17 dan Tiroksin
  • Jurnal : Keanekaragaman Dan Distribusi Udang Dikaitkan Dengan Faktor Fisika Dan Kimia Air Muara Sungai Asahan

    Jurnal : Keanekaragaman Dan Distribusi Udang Dikaitkan Dengan Faktor Fisika Dan Kimia Air Muara Sungai Asahan

    Jurnal Penelitian Perikanan - Keanekaragaman dan Distribusi Udang Dikaitkan dengan Faktor Fisika dan Kimia Air Muara Sungai Asahan - ABSTRAK : Penelitian tentang keanekaragaman dan distribusi udang dikaitkan dengan faktor fisik dan kimia air Muara Sungai Asahan dilakukan pada bulan Maret 2010. Sampel udang diambil dari tiga stasiun pengamatan, dimana pada setiap stasiun pengamatan dilakukan tiga kali ulangan pengambilan sampel.

    Penentuan titik pengambilan sampel dilakukan dengan memakai metode Purposive random sampling. Sampel udang diambil dengan memakai jaring dengan panjang 57 m dan lebar 1,5 m dengan luas mata jaring 4 mm, kemudian diidentifikasi di Laboratorium Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan (PSDAL), Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Sumatera Utara. Pengukuran parameter fisik kimia air dilakukan dengan metode dan alat ukur yang telah ditentukan. Untuk beberapa parameter fisik kimia, pengukuran dilakukan pribadi di lokasi pengambilan sampel dan untuk beberapa parameter fisik kimia lainnya, pengukuran dilakukan di laboratorium. Dari hasil analisis didapatkan 7 genus udang yang termasuk ke dalam kelas Crustacea, ordo Decapoda, Stomatopoda dan 4 famili yaitu Palaemonidae, Penaeidae, Parastacidae, Lysiosquillidae. Nilai kepadatan tertinggi didapatkan pada genus Caridina sebesar 105,653 ind/100 m2 dan kepadatan terendah yakni genus Metapenaeopsis, sebesar 0,780 ind/100 m2. Indeks Keanekaragaman udang berkisar antara 1,071 hingga 1,543 dan Indeks Keseragaman berkisar antara 0,598 hingga 0,868. Hasil perhitungan Indeks Distribusi Morista menunjukkan bahwa udang berdistribusi secara berkelompok. Analisis hubungan Pearson menunjukkan bahwa oksigen terlarut dan fosfat kuat sangat kasatmata dan berkorelasi searah dengan tingkat keanekaragaman udang. Dengan mengacu kepada baku mutu air maritim yang ditetapkan oleh Menteri Negara Lingkungan Hidup dengan Surat Keputusan No. 51 Tahun 2004, didapatkan bahwa hasil pengukuran parameter faktor fisik kimia air di perairan ini masih berada dalam ambang batas yang layak untuk kehidupan udang, namun keanekaragaman udang di perairan muara Sungai Asahan termasuk ke dalam kategori rendah.


    Kata kunci: Keanekaragaman, udang, estuari
    Kajian Perbandingan Aktiviti Pengoksidan Lipid Secara In-Vitro bagi Ekstrak Mimosa Pigra dan Aplikasi Ekstrak Sebagai Antioksida dalam Pemakanan Tilapia
  • Penekanan Mortalitas yang Disebabkan Kanibalisme pada Udang Kali (Macrobrachium lanchesteri de Man) sebagai Model Pengelolaan Budidaya Post Larva Udang Galah (Macrobrachium rosenbergii de Man)
  • Penggunaan Bungkil Inti Sawit yang Difermentasikan oleh Jamur Pelapuk Putih (Phanerochaete chrysosporium) dalm Pakan dan Pengaruhnya terhadap Pertumbuhan dan Daya Cerna Ikan Mas (Cyprinus carpio L.)
  • Pengaruh Meniran dalam Pakan untuk Mencegah Infeksi Bakteri Aeromonas sp. pada Benih Ikan Mas (C. carpio)
  • Pengembangan Industri Tambak Garam Terpadu untuk Produksi Garam dan Artemia Kualitas Super
  • Hasil Tangkapan dan Laju Tangkap Unit Perikanan Pukat Tarik, Tugu dan Kelong
  • Pengaruh Beberapa Media Terhadap Pertumbuhan Populasi Maggot (Hermetia illucens)
  • Aplikasi Teknologi Bioflok pada Budidaya Udang Putih (Litopenaeus vannamei Boone.)
  • Penampilan Reproduksi Induk Ikan Baung (Hemibagrus nemurus Blkr) dengan Pemberian Pakan Buatan yang Ditambahkan Asam Lemak n-6 dan n-3 dan dengan Implantasi Estradiol-17 dan Tiroksin
  • Jurnal : Pementingan Mortalitas Yang Disebabkan Kanibalisme Pada Udang Kali (Macrobrachium Lanchesteri De Man) Sebagai Model Pengelolaan Budidaya Post Larva Udang Galah (Macrobrachium Rosenbergii De Man)

    Jurnal : Pementingan Mortalitas Yang Disebabkan Kanibalisme Pada Udang Kali (Macrobrachium Lanchesteri De Man) Sebagai Model Pengelolaan Budidaya Post Larva Udang Galah (Macrobrachium Rosenbergii De Man)

    Jurnal Penelitian Perikanan - Penekanan Mortalitas yang Disebabkan Kanibalisme pada Udang Kali (Macrobrachium lanchesteri de Man) sebagai Model Pengelolaan Budidaya Post Larva Udang Galah (Macrobrachium rosenbergii de Man) - ABSTRAK : Kanibalisme dipelajari dengan memakai udang kali (M. lanchesteri) yang dipelihara pada akuarium berukuran 40x25x20 cm3. Penelitian terbagi atas dua tahap yakni uji pendahuluan dan uji perlakuan. Uji pendahuluan bertujuan untuk mengetahui ukuran dan nisbah kelamin serta menciptakan standarisasi kepadatan ideal dan waktu aktif udang kali.

    Hasil penelitian menunjukkan bahwa udang kali mempunyai rataan panjang 41.12±1.17 mm untuk individu betina membawa telur (BT), 36.19±1.52 mm untuk betina tidak membawa telur (B), dan 35.82±1.19 mm untuk jantan (J). Nisbah kelamin yaitu 1:1:1 untuk tiga kombinasi BT, B dan J tersebut. Hasil uji pendahuluan juga memperlihatkan bahwa M. lanchesteri yaitu binatang krepuskular yang sebagian besar aktivitasnya terjadi pada pukul 04.00-05.00 dan 17.00-18.00. Kepadatan ideal untuk udang berukuran 35-42 mm yaitu 200 ekor/m2. Perilaku yang bekerjasama dengan kanibalisme sanggup dikategorikan sebagai pasangan agresi reaksi, dengan urutan frekuensi dari tinggi ke rendah yaitu sebagai berikut: sikap mendekati dan menghindar dengan bergeser, sikap mendekati dan menghindar dengan berenang, sikap menyerang dan menyerang balik, serta sikap mengkanibal.dan tidak bereaksi. Nilai kelulushidupan BT lebih tinggi dari pada B dan J (BT: B= 100%: 50% dan BT: J= 100%: 46,66%), sedangkan nilai kelulushidupan B dan J tidak berbeda secara nyata. Kematian udang 100% disebabkan oleh kanibalisme, dan 83,33-100% individu yang mati tersebut sedang berganti kulit (molting). Dalam penelitian ini BT berperan lebih lebih banyak didominasi dalam kanibalisme dan mempunyai nilai kelulushidupan yang lebih tinggi dibanding B dan J lantaran BT tidak pernah mengalami molting dan mempunyai ukuran badan yang lebih besar. Rekomendasi yang sanggup diberikan untuk mengurangi kanibalisme yaitu memberi makan udang pada waktu aktif dan memelihara udang pada kepadatan idealnya yakni 200 ekor/m2.

    Untuk menguji apakah hasil yang diperoleh sanggup diterapkan pada spesies udang lain, dilakukan pengujian pada post larva udang galah berumur satu bulan. Hasil uji statistik memperlihatkan bahwa sikap post larva udang galah berbeda kasatmata dalam hal sikap menyerang, memangsa dan tidak bereaksi tetapi tidak berbeda kasatmata untuk uritan sikap lainnya. Disimpulkan bahwa hasil penelitian ini sanggup diterapkan untuk pengelolaan post larva udang galah berumur satu bulan.


    Kata kunci: Perilaku, Kanibalisme, Macrobrachium lanchesteri, Macrobrachium rosenbergii
    teks lengkap >>

    Baca juga Abstrak Jurnal Penelitian Perikanan lainnya:
    Jurnal : Penggunaan Bungkil Inti Sawit Yang Difermentasikan Oleh Jamur Pelapuk Putih (Phanerochaete Chrysosporium) Dalm Pakan Dan Pengaruhnya Terhadap Pertumbuhan Dan Daya Cerna Ikan Mas (Cyprinus Carpio L.)

    Jurnal : Penggunaan Bungkil Inti Sawit Yang Difermentasikan Oleh Jamur Pelapuk Putih (Phanerochaete Chrysosporium) Dalm Pakan Dan Pengaruhnya Terhadap Pertumbuhan Dan Daya Cerna Ikan Mas (Cyprinus Carpio L.)

    Jurnal Penelitian Perikanan - Penggunaan Bungkil Inti Sawit yang Difermentasikan oleh Jamur Pelapuk Putih (Phanerochaete chrysosporium) dalm Pakan dan Pengaruhnya terhadap Pertumbuhan dan Daya Cerna Ikan Mas (Cyprinus carpio L.) - ABSTRAK : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh teknologi fermentasi terhadap kualitas bungkil inti sawit dan untuk melihat pengaruhnya dalam pakan terhadap pertumbuhan dan daya cerna ikan mas (Cyprinus carpio L.). Penelitian ini dibagi dalam dua tahap. Tahap I bertujuan untuk melihat efek meningkatkan secara optimal jumlah inokulum dan waktu inkubasi pada fermentasi padat memakai jamur Phanerochaete chrysosporium.

    Parameter yang diukur mencakup analisis proksimat pada BIS sebelum dan setelah fermentasi, lignin, dan glukosa. Rancangan percobaan yang dipakai ialah rancangan acak lengkap (RAL) faktorial contoh 3 x 3 dengan tiga kali duplikasi. Pada penelitian tahap II diujikan 5 jenis pakan perlakuan dengan konsentrasi bungkil inti sawit fermentasi (BISF) berbeda, yaitu pakan A (0% BISF dan 100% tepung ikan), pakan B (5% BISF dan 95% tepung ikan), pakan C (10% BISF dan 90% tepung ikan), pakan D (15% BISF dan 85% tepung ikan), dan pakan E (20% BISF dan 80% tepung ikan) dan sebagai kontrol (pakan K) dipakai pakan komersial. Pengujian dilakukan terhadap benih ikan mas umur 8 ahad dengan berat awal rata-rata 14,78±0,41 g. Kepadatan tebar benih sebanyak 5 individu/akuarium dengan seni administrasi donasi pakan dilakukan dua kali sehari sebanyak 5% dari berat tubuh ikan selama 21 hari periode kultur. Parameter yang diukur mencakup berat badan, lajupertumbuhan,efisiensi pakan, efisiensi daya cerna, kesintasan, dan kualitas air (DO, suhu, pH, dan amonium.

    Dari hasil penelitian tahap I, proses fermentasi diketahui sanggup meningkatkan kandungan nutrisi BIS. Hasil terbaik ditemukan pada perlakuan takaran inokulum 5% dengan waktu inkubasi 14 hari, yaitu sebagai berikut: protein meningkat dari 12,49±0,69% menjadi 31,75±0,79%, lemak menurun dari 16,53±1,50 % menjadi 6,37±1,47%, karbohidrat menurun dari 36,26±1,08% menjadi 29,81±1,04%, kadar bubuk meningkat dari 4,18±0,14% menjadi 5,39±0,39%, serat agresif menurun dari 25,93±1,56% menjadi 13,37±0,39% dan kadar lignin menurun dari 165,58 ± 6,44mgL-1 menjadi 109,04±4,92mgL-1.

    Dari penelitian tahap kedua diperoleh pakan perlakuan yang memperlihatkan penampilan terbaik pada ikan mas ialah pakan D dengan hasil sebagai berikut: berat tubuh pada hari ke-21sebesar 19,03±1,36g, laju pertumbuhan sebesar 0,0131ghari-1, efisiensi pakan sebesar 21,42±0,17%, efisiensi daya cerna sebesar 86,81%, dan nilai kesintasan sebesar 73,33±23,09%. Secara statistik, semua parameter yang diukur pada pakan D masih lebih baik dari pada pakan perlakuan yang lain. Parameter kualitas air yang diukur masih berada dalam kisaran nilai yang disarankan untuk budidaya ikan mas.

    Hasil analisis ekonomi dalam pembuatan pakan menggunakan tepung BIS fermentasi sebanyak 15% tepung ikan sebesar 15% memperlihatkan nilai yang menguntungkan (R/C = 1,19). Sehingga biaya pengeluaran pakan untuk periode produksi 1 tahun sanggup dikurangi sebesar Rp. 1.845.225,- Hal ini sanggup disimpulkan bahwa fermentasi padat dapat meningkatkan nilai nutrisi BIS. Dan selanjutnya penggunaan 15% BIS fermentasi untuk mensubstitusi tepung ikan dalam pakan berpotensi untuk dipakai dalam budidaya ikan mas.

    Kata kunci: Phanerochaete chrysosporium, bungkil inti sawit, pakan buatan, Cyprinus carpio, pertumbuhan, efisiensi pakan, daya cerna, kesintasan
    teks lengkap >>

    Baca juga Abstrak Jurnal Penelitian Perikanan lainnya:
    Jurnal : Dampak Meniran Dalam Pakan Untuk Mencegah Bisul Kuman Aeromonas Sp. Pada Benih Ikan Mas (C. Carpio)

    Jurnal : Dampak Meniran Dalam Pakan Untuk Mencegah Bisul Kuman Aeromonas Sp. Pada Benih Ikan Mas (C. Carpio)

    Jurnal Penelitian Perikanan - Pengaruh Meniran dalam Pakan untuk Mencegah Infeksi Bakteri Aeromonas sp. pada Benih Ikan Mas (C. carpio) - ABSTRAK : Penelitian mengenai efek meniran dalam pakan untuk mencegah nanah basil Aeromonas sp. pada benih ikan mas (C. carpio) telah dilaksanakan di Laboratorium Fisiologi Hewan Air Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan UNPAD. Pelaksanaannya dari 10 Juli hingga 21 Agustus 2006.

    Metode Penelitian yang dipakai yaitu metode eksperimen dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) terdiri atas enam perlakuan dan tiga ulangan yaitu takaran meniran dalam 1 kg pakan 0 g/kg, 5 g/kg, 10 g/kg, 15 g/kg, 20 g/kg dan 25 g/kg selama satu bulan. Setiap perlakuan memakai 10 ekor benih ikan mas berat + 3 gram. Setelah satu bulan diberi pakan lalu dikohabitasi dengan ikan mas yang terinfeksi basil Aeromonas selama satu minggu. Analisis data untuk mengetahui efek perlakuan terhadap pertumbuhan dan kelangsungan hidup benih ikan mas dipakai uji F, sedangkan untuk mengetahui adanya perbedaan antar perlakuan dipakai uji Duncan taraf 5 %.

    Hasil penelitian menunjukkan bahwa tunjangan meniran dalam pakan ikan berpengaruh aktual terhadap pencegahan nanah basil Aeromonas sp. dan sanggup meningkatkan pertumbuhan serta kelangsungan hidup benih ikan mas. Dosis meniran 20 g/kg pakan memberikan kelangsungan hidup tertinggi sebesar 80 persen.
    Kajian Perbandingan Aktiviti Pengoksidan Lipid Secara In-Vitro bagi Ekstrak Mimosa Pigra dan Aplikasi Ekstrak Sebagai Antioksida dalam Pemakanan Tilapia
  • Keanekaragaman dan Distribusi Udang Dikaitkan dengan Faktor Fisika dan Kimia Air Muara Sungai Asahan
  • Penekanan Mortalitas yang Disebabkan Kanibalisme pada Udang Kali (Macrobrachium lanchesteri de Man) sebagai Model Pengelolaan Budidaya Post Larva Udang Galah (Macrobrachium rosenbergii de Man)
  • Penggunaan Bungkil Inti Sawit yang Difermentasikan oleh Jamur Pelapuk Putih (Phanerochaete chrysosporium) dalm Pakan dan Pengaruhnya terhadap Pertumbuhan dan Daya Cerna Ikan Mas (Cyprinus carpio L.)
  • Pengembangan Industri Tambak Garam Terpadu untuk Produksi Garam dan Artemia Kualitas Super
  • Hasil Tangkapan dan Laju Tangkap Unit Perikanan Pukat Tarik, Tugu dan Kelong
  • Pengaruh Beberapa Media Terhadap Pertumbuhan Populasi Maggot (Hermetia illucens)
  • Aplikasi Teknologi Bioflok pada Budidaya Udang Putih (Litopenaeus vannamei Boone.)
  • Penampilan Reproduksi Induk Ikan Baung (Hemibagrus nemurus Blkr) dengan Pemberian Pakan Buatan yang Ditambahkan Asam Lemak n-6 dan n-3 dan dengan Implantasi Estradiol-17 dan Tiroksin
  • Jurnal : Pengembangan Industri Tambak Garam Terpadu Untuk Produksi Garam Dan Artemia Kualitas Super

    Jurnal : Pengembangan Industri Tambak Garam Terpadu Untuk Produksi Garam Dan Artemia Kualitas Super

    Jurnal Penelitian Perikanan - Pengembangan Industri Tambak Garam Terpadu untuk Produksi Garam dan Artemia Kualitas Super - Abstrak : Garam adalah salah satu materi yang merupakan perhiasan dari kebutuhan pangan dan berfungsi sebagai sumber elektrolit bagi badan manusia. Walaupun Indonesia termasuk Negara maritim, namun perjuangan meningkatkan produksi garam belum diminati, termasuk dalam perjuangan meningkatkan kualitasnya. Di lain pihak untuk kebutuhan garam dengan kualitas baik (kandungan kalsium dan magnesium rendah) banyak diimpor dari luar negeri, terutama dalam hal ini garam konsumsi beryodium.

    Di sisi lain kebutuhan biomas Artemia untuk pakan larva udang dan ikan terus meningkat sejalan dengan meningkatnya industri perbenihan ikan dan udang di Indonesia. Penelitian ini dilakukan untuk mengembangan industry tambak garam terpadu untuk menghasilkan garam berkualitas tinggi (kadar NaCl > 95% SNI) dan biomass artemia super (kaya nutrisi dan bebas virus) sebagai upaya mengurangi ketergantungan terhadap import garam dan kista Artemia.

    Secara umum, tujuan penelitian tahun pertama ini yaitu untuk menghasilkan model proses dan teknologi produksi garam dan biomas Artemia kualitas super. Produk yang akan dihasilkan dalam penelitian ini yaitu garam konsumsi berkualitas tinggi (kadar NaCl > 95% SNI) dan biomas Artemia kualitas super sebagai pakan untuk larva benur udang dan ikan. Sehingga dengan demikian ada dua produk sekaligus yang sanggup dikembangkan dalam industri tambak garam terpadu. Dalam proses produksi garam dapu (konsumsi), sebelum tahap kristalisasi (> 250 ppt), air media salinitas 100-120 ppt pada tahapan proses pembuatan garam sanggup dimanfaatkan juga sebagai media pertumbuhan Artemia Teknologi produksi garam konsumsi kualitas super (high grade) dengan kandungan NaCl diatas SNI (94,7%) dikaji melalui banyak sekali metoda percobaan di lapangan. Metoda fisika, kimia, dan perpaduan biologi-fisika dalam teknologi produksi garam konsumsi dalam riset ini dilakukan.

    Kualitas produk hasil percobaan ini dibandingkan dengan produk hasil proses produksi garam secara tradisional yang dilakukan oleh para penggarap/petani garam selama ini. Areal tambak garam percobaan seluas 3000 m2 yang terdiri dari 2000 m2 petakan evaporasi (penuaan air) dan 1000 m2 petakan produksi (meja kristalisasi) dipakai untuk studi ini. Kolam tandon (stok air) bersalinitas 100-120 ppt seluas 3000 m2 sekaligus untuk kolam produksi biomas artemia dan kolam tandon air bahari dipakai sebagai sumber air untuk produksi garam. Perlakuan fisika dalam proses produksi garam berkualitas diterapkan dengan memasang plastic HDPE hitam (tebal 0,75 mm) seluas 900 m2 yang berfungsi sebagai lapisan dasar petakan sedimentasi (evaporasi) dan meja garam (kristalisasi).

    Baca juga Abstrak Jurnal Penelitian Perikanan lainnya:
    Jurnal : Hasil Tangkapan Dan Laju Tangkap Unit Perikanan Pukat Tarik, Tugu Dan Kelong

    Jurnal : Hasil Tangkapan Dan Laju Tangkap Unit Perikanan Pukat Tarik, Tugu Dan Kelong

    Jurnal Penelitian Perikanan - Hasil Tangkapan dan Laju Tangkap Unit Perikanan Pukat Tarik, Tugu dan Kelong - Abstrak : Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji hasil tangkapan dan laju tangkap pada perikanan pukat tarik (mini trawl), tugu (trapnet) dan kelong (setnet). Data hasil dan upaya penangkapan serta waktu penangkapan dari setiap unit perikanan tersebut, telah dipakai dalam analisis hasil tangkapan dan laju tangkap secara kuantitatif yang menggambarkan komposisi hasil tangkapan dan nilai laju tangkap dari ketiga unit perikanan tangkap tersebut di Kota Tarakan.

    Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam operasi penangkapan pukat tarik mempunyai 2 (dua) sasaran tangkapan, adalah ikan pepija (nomei hc) dan udang (shrimp) dalam 2 (dua) demam isu penangkapannya. Ikan nomei juga menjadi sasaran tangkapan pada pengoperasian perikanan tugu (trapnet) dan ikan-ikan pelagis kecil di sekitar pantai dan muara menjadi tangkapan utama perikanan kelong (setnet). Pengoperasian pukat tarik dengan sasaran tangkapan ikan nomei mempunyai nilai laju tangkap sebesar 16,1 kg/jam dan pada perikanan tugu mempunyai nilai laju tangkapan sebesar 1,67 kg/jam. Nilai laju tangkap dari pengoperasian kelong sebesar 5,39 kg/hari dan perikanan pukat tarik dengan udang sebagai sasaran tangkapan, mempunyai nilai laju tangkap sebesar 2,05 kg/jam.

    Baca juga Abstrak Jurnal Penelitian Perikanan lainnya:
    Jurnal : Imbas Beberapa Media Terhadap Pertumbuhan Populasi Maggot (Hermetia Illucens)

    Jurnal : Imbas Beberapa Media Terhadap Pertumbuhan Populasi Maggot (Hermetia Illucens)

    Jurnal Penelitian Perikanan - Pengaruh Beberapa Media Terhadap Pertumbuhan Populasi Maggot (Hermetia illucens) - ABSTRAK : Maggot atau larva black soldier fly merupakan salah satu organisme yang memenuhi persyaratan sebagai pakan alami. Akan tetapi, selama ini budidaya maggot belum berkembang. Praktikum ini bertujuan untuk menguji beberapa nutrient sebagai media budidaya maggot.

    Media yang dipakai untuk menumbuhkan maggot dalam praktikum ini antara lain bungkil kelapa sawit, dan dedak. Seluruh media ditimbang sebanyak satu kilogram, lalu ditambahkan air sebanyak 1 liter dan diletakkan dalam ember. Selanjutnya media ditempatkan pada tempat yang diduga terdapat lalat black soldier. Budidaya dilakukan selama 21 hari dengan 2 ulangan, lalu dilihat produksinya. Dari praktikum ini didapatkan data produksi maggot dengan media bungkil kelapa sawit rata-rata 305,5 gram dan media dedak rata-rata 205 gram. Berdasarkan hasil dari praktikum ini sanggup disimpulkan bahwa media kelapa sawit dan dedak berpotensi untuk menjadi media budidaya maggot.

    Kata kunci: maggot, tepung bungkil kelapa sawit, dedak, produksi
    Kajian Perbandingan Aktiviti Pengoksidan Lipid Secara In-Vitro bagi Ekstrak Mimosa Pigra dan Aplikasi Ekstrak Sebagai Antioksida dalam Pemakanan Tilapia
  • Keanekaragaman dan Distribusi Udang Dikaitkan dengan Faktor Fisika dan Kimia Air Muara Sungai Asahan
  • Penekanan Mortalitas yang Disebabkan Kanibalisme pada Udang Kali (Macrobrachium lanchesteri de Man) sebagai Model Pengelolaan Budidaya Post Larva Udang Galah (Macrobrachium rosenbergii de Man)
  • Penggunaan Bungkil Inti Sawit yang Difermentasikan oleh Jamur Pelapuk Putih (Phanerochaete chrysosporium) dalm Pakan dan Pengaruhnya terhadap Pertumbuhan dan Daya Cerna Ikan Mas (Cyprinus carpio L.)
  • Pengaruh Meniran dalam Pakan untuk Mencegah Infeksi Bakteri Aeromonas sp. pada Benih Ikan Mas (C. carpio)
  • Pengembangan Industri Tambak Garam Terpadu untuk Produksi Garam dan Artemia Kualitas Super
  • Hasil Tangkapan dan Laju Tangkap Unit Perikanan Pukat Tarik, Tugu dan Kelong
  • Aplikasi Teknologi Bioflok pada Budidaya Udang Putih (Litopenaeus vannamei Boone.)
  • Penampilan Reproduksi Induk Ikan Baung (Hemibagrus nemurus Blkr) dengan Pemberian Pakan Buatan yang Ditambahkan Asam Lemak n-6 dan n-3 dan dengan Implantasi Estradiol-17 dan Tiroksin
  • Jurnal : Aplikasi Teknologi Bioflok Pada Budidaya Udang Putih (Litopenaeus Vannamei Boone.)

    Jurnal : Aplikasi Teknologi Bioflok Pada Budidaya Udang Putih (Litopenaeus Vannamei Boone.)

    Jurnal Penelitian Perikanan - Aplikasi Teknologi Bioflok pada Budidaya Udang Putih (Litopenaeus vannamei Boone.) - ABSTRAK : Udang Putih (Litopenaeus vannamei Boone.) merupakan salah satu komoditas perikanan maritim Indonesia yang mempunyai nilai ekonomi tinggi baik di pasar domestik maupun global. Proses budidaya komoditas ini sudah berkembang secara pesat terutama penggunaan teknologi berdasarkan pada proses autotrof yang memakai proses fotosintesis fitoplankton sebagai faktor penentu produktivitas perairan tambak. Penggunaan sistem ini masih mempunyai beberapa permasalahan ibarat kualitas air dan konversi pakan yang tidak stabil. Untuk itu, perlu dikembangkan suatu sistem budidaya efektif untuk memecahkan permasalahan tersebut melalui sistem budidaya berbasis teknologi bioflok yang memakai komunitas mikroorganisme (mikroalga dan bakteri).

    Penelitian ini bertujuan untuk memproduksi bioflok dari adonan mikroba pembentuk bioflok dalam skala pilot yang kemudian diaplikasikan dalam budidaya udang putih untuk mengetahui imbas penggunaannya dalam peningkatan efisiensi rasio konversi pakan.

    Penelitian ini dilakukan dalam dua tahap: (1) meningkatkan secara optimal jumlah inokulum (10%, 15%, dan 20% (v/v)) dengan rasio mikroalga (Thalasiossira sp.) : basil (Achromobacter liquefaciens) = 1. (2) Aplikasi teknologi bioflok yang telah diproduksi untuk budidaya udang putih memakai 3 variasi perlakuan yaitu proteksi bioflok tanpa pakan (A), bioflok dan pengurangan feeding rate 50% (B), bioflok dan pengurangan feeding rate 25% (C), dan sebagai kontrol (K) yakni pemeliharaan udang dengan 100% pakan komersial. Penelitian dilakukan pada akuarium berukuran 40x 25x 20 cm3 dengan kondisi awal kultur memakai air maritim bersalinitas 20 ppt. Kepadatan udang 50 ekor PL13 dengan berat ratarata (0,0043±0,0005) gram dan panjang rata-rata (0,5333±0,10328) cm dipakai sebagai stok awal penelitian. 10% (v/v) bioflok ditambahkan pada awal periode kultur dan suhu dijaga 30oC selama 35 hari periode kultur.

    Hasil tahap pertama memperlihatkan bahwa perlakuan dengan inokulum 10% (v/v) menghasilkan bioflok terbaik dengan struktur kompak, berwarna coklat keemasaan, dan berukuran lebih dari 100 μm yang terbentuk pada hari ke-4. Pada tahap kedua, kesintasan tertinggi sebesar (61,33±8,33)% diperoleh pada perlakuan B (pengurangan pakan 50%). Perlakuan C memperlihatkan hasil laju pertumbuhan dan total biomassa udang putih tertinggi sebesar (0,0149±0,0003 gram/hari) dan (13,5±1,8676) gram. Nilai rasio konversi pakan (FCR) terbaik diperoleh pada perlakuan B sebesar (1,03±0,13) yang berbeda faktual (P<0,05) dengan perlakuan K (1,85±0,01).

    Secara umum, penggunaan teknologi bioflok belum sanggup meningkatkan kualitas air secara signifikan. Namun, penggunaan bioflok dan pengurangan pakan 25% secara signifikan mengurangi nilai FCR dan berpotensi untuk diaplikasikan dalam budidaya udang putih. 

    Kata kunci: udang putih, bioflok, Thalassiosira sp., Achromobacter liquefaciens, feeding rate 
    teks lengkap >>

    Baca juga Abstrak Jurnal Penelitian Perikanan lainnya: