Perusahaan Ikan Taiwan Pesan 50 Lulusan Smkn 1 Pelabuhan Ratu Tiap Tahun

 Palabuhanratu diburu perusahaan luar negeri Perusahaan Ikan Taiwan Pesan 50 lulusan SMKN 1 Pelabuhan Ratu tiap tahun
Perusahaan Ikan Taiwan Pesan 50 lulusan SMKN 1 Pelabuhan Ratu tiap tahun - Fasilitas sekolah berbasis keahlian kelautan dan pelayaran yang minim tidak menciptakan SMKN 1 Palabuhanratu di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, menghasilkan lulusan yang asal-asalan. Buktinya, semenjak tahun 1999 hingga kini, lulusan SMKN 1 Palabuhanratu diburu perusahaan luar negeri.

Lulusan sekolah ini terutama ditawari bekerja di kapal perikanan, mulai sebagai nakhoda, anak buah kapal, teknisi, hingga pengolahan ikan.

Bahkan, lulusan SMKN 1 Palabuhanratu yang bekerja di Jepang dipuji. Sebab, lulusan sekolah ini dinilai mempunyai kesiapan fisik dan mental yang diperlukan perusahaan perkapalan perikanan di Jepang. Sejak tahun 1999, pengiriman lulusan SMKN 1 Palabuhanratu untuk bekerja di perusahaan perkapalan perikanan di Jepang terus berlanjut.

”Permintaan terhadap lulusan sekolah kami bukan saja dari Jepang. Tawaran kerja dari perusahaan di Korea Selatan dan Taiwan mulai berdatangan. Perusahaan tidak melirik yang sudah lulus saja, tetapi juga yang mau praktik kerja industri,” kata Ade Santana, Kepala SMKN 1 Palabuhanratu. Perusahaan pengolahan ikan dari Taiwan meminta 50 lulusan tiap tahun.

Meski sekolah hanya mempunyai satu kapal kayu sebagai kapal latih, yang sekarang rusak berat, sekolah tetap berusaha membekali siswa dengan pengetahuan soal perkapalan, pelayaran, dan kelautan. Fasilitas bengkel dan laboratorium juga tidak memenuhi standar. Kesempatan praktik industri di kelas dua selama minimal tiga bulan di sekitar Palabuhanratu hingga Bali, Ambon, atau Sorong menjadi ajang berguru siswa perihal pekerjaan di laut.

Dapat uang

Dalam masa praktik kerja industri yang berlangsung 3 bulan hingga 9 bulan, siswa dibayar. Kesempatan magang ini menjadi jalan keluar bagi siswa tidak bisa menerima suplemen uang untuk membayar uang sekolah atau menabung untuk persiapan kerja ke luar negeri.

Siswa dibimbing oleh sejumlah guru honor yang berpengalaman kerja di kapal perikanan di Jepang. Hal ini yang menciptakan siswa SMKN 1 Palabuhanratu bisa menjadi pelaut ulung di tengah keterbatasan sarana dan prasarana sekolah.

Sekolah kelautan/pelayaran yang berlokasi tak jauh dari pelabuhan ikan Palabuhanratu ini mengalami nasib hampir sama dengan sekolah pertanian, yaitu tak dilirik belum dewasa muda. Ditambah lagi, keberpihakan pemerintah terhadap kelautan tak maksimal. Akibatnya, peluang kerja terbuka lebar di negeri orang lain.

Ade menjelaskan, awal Januari, perusahaan luar negeri sudah berdatangan ke sekolah untuk menyeleksi siswa. Seleksi berikutnya dilakukan seusai siswa ujian, sekitar Mei. ”Tiap tahun lebih dari 30 siswa terpilih bekerja di perusahaan perkapalan perikanan di Jepang. Tadinya, perusahaan ini memercayakan penyeleksian kepada guru. Tetapi, kami meminta menyeleksi sendiri supaya bisa menentukan siswa yang pas,” kata Ade.

Bekerja di tengah maritim selama tiga tahun memang tidak mudah. Untuk itu, siswa dibiasakan dengan pendidikan disiplin yang besar lengan berkuasa atau semimiliter.

Setiap hari, digelar upacara yang diselingi kegiatan fisik selama dua kali pada pagi dan siang hari. Pada sore hari, ada kegiatan ekstrakurikuler siswa.

”Dari awal, siswa sudah disiapkan untuk menghadapi dunia kerja di maritim yang butuh kedisiplinan serta kekuatan mental dan fisik. Buahnya, siswa kami terus digunakan oleh perusahaan luar untuk ikut praktik kerja,” ujar Ade.

Anggun Gusnawan, guru honor bahasa Jepang dan kepingan kesiswaan, mengatakan, para siswa dibekali dengan pendidikan huruf untuk bekal bekerja nanti. Apalagi ada anggapan miring masyarakat soal pekerja di maritim yang sering termakan dalam kegiatan negatif perjudian, mabuk, dan korelasi seks bebas.

”Kami bekali siswa biar bisa punya benteng dogma yang kuat. Saya motivasi siswa supaya menggunakan kesempatan kerja di luar negeri itu untuk berguru dan menyiapkan bekal hidup di Indonesia nanti. Makara bukan untuk hura-hura sehingga honor amblas,” ujar Anggun yang pernah menjalani ikatan kerja selama tiga tahun di kapal Jepang.

Menurut Anggun, tenaga kerja asal Indonesia disukai alasannya ialah gampang mengikuti keadaan dengan masyarakat Jepang. Jika tenaga kerja Indonesia terus menawarkan kemampuan yang baik, ke depan Indonesia harus punya daya tawar yang baik dalam hal penggajian dan kemudahan kerja.

Sertifikat internasional

Mengenyam pendidikan di Sekolah Menengah kejuruan yang berbasis keahlian pelayaran/kelautan tidak hanya butuh ijazah yang didapat jikalau lulus ujian nasional. Ada akta internasional yang mesti dipunyai siswa supaya bisa bekerja hingga ke luar negeri.

Siswa dengan kegiatan keahlian nautika kapal penangkap ikan, nautika kapal niaga, dan teknika perikanan maritim (bagian mesin) semenjak di kelas dua sudah harus punya buku pelaut sebagai surat izin siswa berlayar. Buku pelaut ini diperlukan supaya siswa di kelas dua bisa menjalankan praktik kerja industri di perusahaan pelayaran niaga atau perikanan.

Di kelas tiga, siswa harus mengambil ujian andal nautika kapal penangkap iklan (Ankapin 2) untuk siswa kegiatan keahlian nautika kapal ikan serta andal teknika kapal ikan (Atkapin 2) untuk kegiatan keahlian teknika perikanan. Siswa kegiatan keahlian pengolahan hasil maritim perlu akta hazard analysis and critical control point untuk unit pengolahan ikan.

Siswa yang direkrut kerja di kapal perikanan menerima honor 170 dollar AS-190 dollar AS per bulan di luar biaya lain, termasuk uang lembur. Gaji meningkat seiring lamanya bekerja. Kontrak kerja berlaku selama tiga tahun.

Di sekolah ini, siswa dari kegiatan teknologi pengolahan hasil perikanan diajari menciptakan bermacam-macam produk masakan dari materi dasar hasil maritim untuk menambah nilai jual. Dengan peralatan kerja yang sederhana, siswa mengolah ikan dari sekitar Palabuhanratu menjadi abon ikan, bakso, nugget, sosis, dan burger. Namun, produksi tidak rutin alasannya ialah terkendala kemudahan kerja dan kemampuan guru.

Awalnya, tak banyak siswa sekitar Palabuhanratu yang melirik Sekolah Menengah kejuruan berbasis keahlian pelayaran/kelautan ini. Masyarakat yang umumnya nelayan menganggap tak perlu pendidikan khusus untuk bekerja di laut. Namun, peluang kerja bagi lulusan perlahan mengubah perilaku masyarakat. Kini, 70 persen siswa berasal dari sekitar Palabuhanratu. Keinginan mengubah masa depan keluarga lewat pendidikan menguat. Siswa sekolah sekarang tercatat berjumlah 380 orang.

Sekolah berencana membuka kegiatan keahlian budidaya rumput laut. Potensi rumput laut cukup menjanjikan.

Sumber: Kompas.com

Perusahaan Ikan Taiwan Memesan 50 lulusan SMKN 1 Pelabuhan Ratu tiap tahun

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Perusahaan Ikan Taiwan Pesan 50 Lulusan Smkn 1 Pelabuhan Ratu Tiap Tahun"

Post a Comment