Jurnal : Penggunaan Bioenkapsulasi Spirulina Sp. Dalam Artemia Sp. Sebagai Pakan Pada Pemeliharaan Pascalarva Udang Putih (Litopenaeus Vannamei Boone.)

Jurnal : Penggunaan Bioenkapsulasi Spirulina Sp. Dalam Artemia Sp. Sebagai Pakan Pada Pemeliharaan Pascalarva Udang Putih (Litopenaeus Vannamei Boone.)

Jurnal Penelitian Perikanan - Penggunaan Bioenkapsulasi Spirulina sp. dalam Artemia sp. sebagai Pakan pada Pemeliharaan Pascalarva Udang Putih (Litopenaeus vannamei Boone.) - ABSTRAK : Penelitian ini dilakukan untuk melihat pengaruh bioenkapsulasi Spirulina sp. dalam Artemia sp. terhadap kesintasan dan pertumbuhan pascalarva (PL) udang putih dan memperoleh konsentrasi optimum Spirulina sp. yang diharapkan dalam proses bioenkapsulasi tersebut.

Tahapan penelitian yang dilakukan: (1) produksi biomasa Spirulina sp. dalam medium Schlösser, (2) penentuan metode penetasan kista Artemia sp. yang terbaik (nondekapsulasi, dekapsulasi dengan klorin, serta dekapsulasi dengan klorin dan basa), (3) bioenkapsulasi Spirulina sp. dan produk komersial ke dalam Artemia sp. dengan konsentrasi 100, 200, 300, 400, 500 ppm, dan (4) pengujian imbas produk bioenkapsulasi Artemia sp. pada kesintasan dan pertumbuhan PL udang putih yang dipelihara selama 10 hari.
teks lengkap >>

Baca juga Abstrak Jurnal Penelitian Perikanan lainnya:
Jurnal : Karakterisasi Kitin Dan Kitosan Asal Limbah Rajungan Cirebon Jawa Barat

Jurnal : Karakterisasi Kitin Dan Kitosan Asal Limbah Rajungan Cirebon Jawa Barat

Jurnal Penelitian Perikanan - Karakterisasi Kitin dan Kitosan Asal Limbah Rajungan Cirebon Jawa Barat - ABSTRAK : Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengkarakterisasi kitin dan kitosan asal limbah rajungan hasil samping proses industri pengalengan daging rajungan Cirebon. Tahap awal penelitian mencakup produksi tepung kitin dari cangkang rajungan. Tahap berikutnya yaitu produksi dan karakterisasi kitin dan kitosan.

Karakteristik kitin dan kitosan meliputi kelarutan, derajat deasetilasi, viskositas intrinsik dan berat molekul. Derajat deasetilasi dianalisis dengan memakai First Derivative Ultra Violet Spektrofotometry, viskositas intrinsik dengan viskometer Ubbelohde, dan berat molekul menurut persamaan Mark-Houwink.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakteristik kitin dan kitosan yang mencakup kelarutan, derajat deasetilasi, viskositas intrinsik dan berat molekul masing-masing yaitu 28%, 39,02%, 8,57 ml/g, 11 x 103 dan 79,39%; 70,70%; 6,93 ml/g dan 8,75 x 103. Karakteristik kitosan yang dihasilkan sesuai untuk aplikasi dalam bidang pangan.


Kata kunci: karakterisasi, kitin, kitosan
teks lengkap >>

Baca juga Abstrak Jurnal Penelitian Perikanan lainnya:
Jurnal : Penggunaan Protein Rekombinan Hormon Pertumbuhan Untuk Memacu Pertumbuhan Ikan Gurame (Osphronemus Gouramy)

Jurnal : Penggunaan Protein Rekombinan Hormon Pertumbuhan Untuk Memacu Pertumbuhan Ikan Gurame (Osphronemus Gouramy)

Jurnal Penelitian Perikanan - Penggunaan Protein Rekombinan Hormon Pertumbuhan untuk Memacu Pertumbuhan Ikan Gurame (Osphronemus gouramy) - Abstrak : Ikan gurame (Osphronemus gouramy) merupakan salah spesies sasaran revitalisasi perikanan untuk tujuan konsumsi dalam negeri, yang diperlukan produksinya terus meningkat setiap tahun. Target produksi ikan gurame nasional tahun 2007 belum tercapai (Nurdjana, 2008). Rendahnya kualitas benih dan pakan yang dipakai petani ikan diduga merupakan faktor utama penyebab sasaran produksi nasional tersebut tidak terealisasi.

Kualitas benih ikan sanggup ditingkatkan melalui aplikasi metode selektif breeding, hibridisasi, poliploidisasi (triploidisasi), dan transgenesis. Namun demikian, teknik pemijahan ikan gurame secara terkontrol/buatan sebagai prasyarat bagi teknologi-teknologi tersebut belum tersedia. Pendekatan lain yang sanggup dipakai untuk memacu pertumbuhan ikan gurame adalah kontribusi pakan berkualitas tinggi; kadar protein tinggi. Pakan buatan untuk memacu pertumbuhan ikan gurame mulai dari benih sampai untuk pembesaran disarankan memakai kadar protein tinggi, 33,9-43,3% (Mokoginta et al., 1994).

Persentase kadar protein yang cukup tinggi tersebut, diduga menjadi salah satu penyebab petani kurang tertarik untuk menggunakannya, alasannya pakan yang mempunyai protein tinggi adalah lebih mahal dibandingkan dengan pakan dengan kandungan protein rendah. Umumnya petani memberi makan ikan gurame berupa pakan buatan yang mengandung protein <30% atau dengan daun talas saja. Pakan dengan kadar protein rendah, sekitar 28%, yang ditambahkan materi stimulan pemacu pertumbuhan ikan, atau kontribusi pakan alami diperkaya dengan materi stimulan tersebut diduga menjadi alternatif untuk mengatasi problem rendahnya kecepatan tumbuh ikan gurame.

Baca juga Abstrak Jurnal Penelitian Perikanan lainnya:
Sejarah Penyebaran Ikan Hias Mas Koki Di Negeri Jepang

Sejarah Penyebaran Ikan Hias Mas Koki Di Negeri Jepang

Sejarah Penyebaran Ikan Hias Mas Koki di Negeri Jepang Sejarah Penyebaran Ikan Hias Mas Koki di Negeri Jepang
mas koki masuk ke Jepang sekitar tahun 1.500, sempurna semasa Shogun berkuasa. Karena harganya yang mahal dan pengadaannya masih tergantung impor dari China ketika itu mas koki masih terbatas sebagai ikan peliharaan kaum elite, terutama orang-orang kaya dan para pejabat pemerintah China.

Salah satu dokumen menarik pada masa itu yakni munculnya hukum atau citra perilaku penguasa perihal cara pemeliharaan mas koki. Isi hukum tersebut antara lain melarang masyarakat Jepang memelihara dan menernakkan mas koki.

Di Jepang terdapat tiga daerah yang dikenal sebagai pusat penghasil mas koki, yaitu Koriyama di propinsi Nara, Yatomi, di propinsi Aichi, dan Tokyo. Ketiga daerah itu menghasilkan 1235 juta ekor mas koki pada tahun 1976.

Di Koriyama, misalnya, terdapat kolam mas koki yang merangkap persawahan seluas 880.000 m2, dengan produksi mencapai 40 juta ekor mas koki pada tahu 1976.

Di Aichi, mas koki dikembangkan di sekitar sungai Kiso semenjak awal era ke-20. Produksinya sekitar 30 juta ekor per tahun yang ditangani oleh 160 perusahaan peternakan mas koki.

Tokyo (kini Ibukota Jepang), sudah semenjak era 17 menjadi pusat penghasil mas koki. Menurut catatan tahun 1976, Tokyo memproduksi sekitar 35 juta ekor mas koki. Di kota ini terdapat kolam mas koki seluas 300.00 m2, yang dimiliki penduduk dan 43 perusahaan peternakan . Salah seorang peternak tersohor dari daerah ini yakni Kichigoro Akiyami, pemilik peternakan mas koki Goldfish Farm.

Video Mas Koki Ranchu:


Mas koki dari Jepang dipasarkan di seluruh dunia. Antara lain diekspor ke USA, Inggris, Jerman, Prancis, dan juga ke Indonesia. Menurut Yoshichi Matsui, dalam bukunya Goldfish Guide, mas koki Jepang dikelompokkan menjadi tiga menurut asalnya. Masing-masing yakni hasil impor dari China (wakin, maruko, ryukin, domekin), hasil seleksi (Jikin, nankin tosakin, tetsuanage, osaka ranchu, hanafusa, oranda shishigashira), dan hasil silangan (kiranshi, shubunkin, shikin, kaliko, azumanishiki).

Jenis-jenis mas koki yang ketika ini terdapat di Jepang antara lain:
  • Wakin (mas koki biasa)
  • Hibuna (mas koki asli)
  • Jikin, rorukin, shachi atau kujyaku (mas koki ekor burung merak/peacock tail)
  • Ryukin (mas koki fantail Jepang)
  • Domekin (mas koki mata teleskop/telescopeye)
  • Ranchu (mas koki kepala singa/lionhead)
  • Chotengan (mas koki nirwana/celestial)
  • Shishigasira (mas koki oranda)
  • Azumanishiki ( mas koki kaliko oranda)
  • Kaliko
  • Shubunkin
  • Tosakin (mas koki ekor berombak)
  • Shukin (mas koki kepala singa berekor panjang)
  • Kinranshi (mas koki silangan dari wakin dan linhead)
  • Tetsuonaga (mas koki fantail berwarna besi)

By: MS. Maulana & HarryS

Baca juga artikel menarik perihal Mas koki lainnya:
Sekilas Mengenal Ikan Baung (Mystus Nemurus)

Sekilas Mengenal Ikan Baung (Mystus Nemurus)

 Ikan ini telah berhasil dipijahkan secara buatan oleh BBPBAT Sukabumi semenjak tahun  Sekilas Mengenal Ikan Baung (Mystus nemurus)

Budidaya Ikan - Sekilas Mengenal Ikan Baung (Mystus nemurus) - Ikan Baung (Mystus nemurus) merupakan komoditas ikan air tawar di Indonesia. Ikan ini telah berhasil dipijahkan secara buatan oleh BBPBAT Sukabumi semenjak tahun 1988. Tekstur daging ikan baung berwarna putih, tebal dan tanpa duri halus di dalam dagingnya, sehingga sangat disukai oleh masyarakat.

Selama ini produksi ikan baung kebanyakan didapat dari penangkapan di alam (sungai/danau). Oleh akhirnya hasil produksi tidak menentu baik dalam jumlah maupun ukurannya.

Dengan berhasil diketahuinya teknik pemijahan ikan baung, maka sanggup diperlukan perjuangan budidaya ikan tersebut akan berkembang. Sehingga produksi ikan baung sanggup memenuhi ajakan masyarakat akan ikan air tawar jenis ini.

Klasifikasi Ilmiah Ikan Baung:
  • Philum : Chordata
  • Kelas : Pisces
  • Anak Kelas : Teleostei
  • Bangsa : Siluridae
  • Suku : Bagridae
  • Marga : Mystus
  • Jenis : M. nemurus

Ikan baung mempunyai ciri fisik berkumis atau sungut yang mencapai mata. Badan ikan baung tidak bersisik dan mempunyai sirip dada serta sirip lemak berukuran besar. Ikan baung mempunyai bentuk ekspresi melengkung. Warna badan ikan baung coklat kehijauan. Habitat alami dari ikan baung yaitu dasar perairan air tawar. Ikan ini bersifat omnivora.

Secara lokal ikan baung memiliki aneka macam nama. Di Jawa Barat ikan baung dikenal dengan nama ikan tagih, senggal atau singah. Di Jawa Tengah dinamakan ikan tageh. Di Jabodetabek ataupun Malaysia menyebutnya sebagai ikan bawon. Di Serawak menyebutnya ikan baon. Sedangkan di Kalimantan Tengah ikan ini dikenal sebagai ikan niken, siken, tiken, bato, atau baung putih, dan di Sumatera dikenal sebagai ikan baong.

By: HarryS

Sumber:
  • Informasi Teknik Perikanan (BBAT, Sukabumi)
Penyebaran Ikan Hias Mas Koki Di Eropa Dan Amerika

Penyebaran Ikan Hias Mas Koki Di Eropa Dan Amerika

Penyebaran Ikan Hias Mas Koki di Eropa dan Amerika Penyebaran Ikan Hias Mas Koki di Eropa dan Amerika
mas koki veiltail (ekor rumbai) atau mas koki tosa, dan mas koki comet tail (ekor komet) alias mas koki bintang berekor.

Mas koki veiltail lahir di Philadelphia, hasil mutasi dari mas koki ryukin atau fantail Jepang (ekor kipas). Nama veiltail mencuat sehabis disilangkan dengan mas koki lain terutama calico telescope (koliko mata teleskop) dan blackmoor. Kini veiltail jadi ratunya mas koki di negara-negara barat, banyak dipelihara di akuarium.

Mas koki comet tail diduga berasal dari mutasi ryukin atau fantail. Mas koki ini lebih dikenal dengan nama komet. Tubuhnya memanjang menyerupai badan ikan konsumsi, tapi sangat indah dipandang dan gampang dipelihara. Gerakannya lincah, berenangnya bergaya konstan. Di AS mas koki komet telah diproduksi dalam jumlah jutaan ekor, dan yang kini ada di Jepang berasal dari AS.

Di Eropa, mas koki diperkirakan datang di benua ini sekitar tahun 1611, 1691, dan 1728. Angka tahun datang ini diperoleh dari catatan pengiriman mas koki dari China ke Eropa.

Dari Italia dan Inggris, mas koki masuk ke Belanda dan segera diternakan di negara tersebut. Namun rupanya orang Eropa lebih bahagia jadi hoiis daripada jadi peternak. Kalaupun ada yang menernakkannnya, porsinya kecil. Andil untuk mengisi pasar ikan hias tidak terasa.

Sampai kini Eropa merupakan pasar mas koki yang besar daya serapnya. Sebagian besar ikan hias termasuk mas koki yang diternakkan di Jepang, Cina, Hongkong, dan Indonesia mengalir ke pasar Eropa setiap tahun.

Baca juga artikel menarik wacana Mas koki lainnya:
Bagaimana Cara Memijahkan Ikan Baung

Bagaimana Cara Memijahkan Ikan Baung

ikan baung. Langkah-langkah tersebut adalah:
  1. Membedakan induk ikan baung jantan dan betina
  2. Pematangan gonad
  3. Seleksi induk
  4. Penyuntikan hormon
  5. Pemijahan

1. Membedakan induk jantan dan betina
  • Ciri-ciri induk ikan baung jantan dan betina yaitu sebagai berikut:
    • Induk betina : tubuh lebih pendek, memiliki dua lubang kelamin berbentuk bulat
    • Induk jantan : tubuh lebih panjang, memiliki satu lubang kelamin berbentuk memanjang
2. Pematangan Gonad
  • Pematangan gonad dilakukan di kolam dengan air yang mengalir secara kontinyu. Kepadatan tebar induk di kolam yaitu sebanyak 0,2 – 0,5 kg/m2. Setiap hari induk diberikan pakan pellet sebanyak 3 – 4% berat tubuh setiap hari.
3. Selesi Induk
  • Seleksi induk bertujuan untuk mendapat induk dengan kematangan gonad yang siap dipijahkan.
  • Induk betina yang matang gonad ditandai dengan perut yang membesar (buncit) dan terasa lembut apabila diraba. Bila perut induk diurut akan keluar telur berbentuk bundar utuh berwarna kecoklatan.
  • Induk jantan yang sudah siap dipijahkan ditandai dengan warna tubuh dan alat kelaminnya yang agak kemerahan.
4. Penyuntikan Hormon
Penyuntikan hormon
  • Induk ikan betina disuntik dengan ovaprim sebanyak 0,6 ml/kg berat tubuh (BB) sedangkan induk jantan dengan ovaprim sebanyak 0,5 ml/kg BB.
  • Penyuntikan dilakukan sebanyak dua kali dengan selang waktu 12 jam. Setiap penyuntikan sebanyak ½ takaran total penyuntikan.
  • Penyuntikan dilakukan di bab punggung ikan.
5. Pemijahan
  1. Bila ikan dipijahkan secara alami, maka induk jantan dan betina yang telah disuntik disatukan di dalam kolam yang telah diberi ijuk, kemudian ikan dibiarkan memijah sendiri.
  2. Bila akan dilakukan stripping, maka pengurutan dilakukan 6 – 8 jam sesudah penyuntikan hormon ke-2.
    • Tahapan pekerjaan apabila dilakukan stripping:
      1. Menyiapkan sperma:
      2. Ambil kantong sperma dari induk jantan dengan membedah bab perut.
      3. Gunting kantong sperma dan keluarkan.
      4. Tampung cairan sperma di dalam gelas yang sudah diisi dengan larutan NaCl 0,9% sebanyak ½ bab gelas.
      5. Aduk hingga merata.
      6. Apabila larutan terlalu pekat, tambahkan NaCl hingga larutan berwarna putih susu dan cukup encer.
    Stripping induk ikan baung
    • Siapkan induk betina yang akan dikeluarkan telurnya.
    • Urut/pijat bab perut ke arah lubang kelamin sehingga telur keluar.
    • Tampung telur di dalam mangkuk plastik higienis dan kering.
    • Masukkan larutan sperma bertahap dan aduk hingga merata.
    • Agar terjadi pembuahan, tambahkan air higienis dan aduk secara merata sehingga proses pembuahan sanggup berlangsung dengan baik.
    • Tambahkan lagi air untuk mencuci telur dari darah, kemudian air dibuang.
    • Agar bersih, lakukan pembersihan sebanyak 2 – 3 kali.
    • Masukkan telur yang telah higienis ke dalam akuarium penetasan berisi air bersih.
    • Cara memasukkan telur ke dalam akuarium: gunakan bulu ayam untuk mengambil telur, kemudian sebarkan ke seluruh permukaan akuarium biar merata.
    • Dalam waktu 36 jam telur akan menetas dan larva yang dihasilkan dipindahkan ke dalam akuarium pemeliharaan larva.
    • Setelah larva berumur 2 hari, larva diberikan pakan kutu air (Moina atau Daphnia) atau cacing sutra (Tubifex) yang sudah dicincang sebelumnya.
    • Setelah larva berumur 4 hari, larva diberi pakan cacing sutra hingga berumur tujuh hari.